Konstruksi Logika Aristotele
Logika Aristoteles dibangun diatas konsepsi intelektual yang direkam dari kondisi empiris atau benda-benda eksternal yang ditangkap indera. Menurut Aristoteles, gagasan-gagasan atau konsepsi yang ada dalam pikiran tidak diambil dari alam ide sebagaimana disampaikan Plato, melainkan direkam dari alam nyata, kenyataan empiris yang ditangkap indera. Gagasan atau konsepsi dari alam riil yang direkam indera kemudian diolah dan disusun secara sistematis menurut aturan logis untuk mengungkap gagasan dan kebenaran lain yang lebih tinggi daripada apa yang dicapai indera. Jika dalam pikiran seseorang telah terbentuk konsep-konsep kebenaran, maka dengan silogisme atau aturanlogis, akan di temukan kebenaran atau gagasan lain yang tidak dikenal sebelumnya. Prinsip kerja dari gagasan ini adalah :
(1) adanya benda-bendaalam yang bisa diindera,
(2) terjadinya gambaran atau persepsi dalampikiran,
(3) pengungkapan atas gambaran yang ada dalam pikirantersebut lewat bahasa atau kata.
Tentang penentuan apa yang ada yang ditangkap pikiran lewat indera, Aristoteles membagi dalam 10 bagian yang disebut kategori, yakni :
(1) substansi,
(2) kuwantitas atau jumlah,
(3) kuwalitas atau sifat,
(4) relasiatau hubungan,
(5) tempat
(6) waktu,
(7) sikap atau status,
(8) keadaan,
(9)kerja atau aktif,
(10) menderita atau pasif.
Diatas kategori yang sepuluh iniseseorang menyusun pengertian atau logika.
Dengan konsep ini, Aristoteles berarti membangun paradigma pemikiran yang berasal dari “bawah”, empiris. Dari data empiris yang diakui kebenarannya disusun konsepsi intelektual dan suatu kebenaran, dan dari kebenaran serta konsepsi intelektual ini --dengan aturansilogisme-- di turunkan atau ditemukan kebenaran dan konsepsi baru yang lebih tinggi atau belum ditemukan sebelumnya. Begitu seterusnya sehingga dari data-data empiris ini seseorang bisa naik dan menemukan ide tertinggi. Konsekuensinya, dalam persoalan hubungan antara alam riil dan ide, maka alam ide adalah “bayangan” alam riil. Apa yang ada (being) dan yang aktual bukan yang di dalam otak, di dalam ide atau pikiran, tetapi dalam benda-benda konkrit. Diluar itu semua tidak ada apapun, melainkan hanya sebutan belaka, bukan benda sesungguhnya, meski yang dimaksud adalah benda ghaib.
Dalam pandangan Aristoteles, alam idea (essensi) adalah sesuatu yang “menjadi” bukan sesuatu yang “ada”, Ia ada secara immanen dalam benda-benda konkrit yang bentuknya (form) kemudian ditangkap oleh intelengia atau pikiran. Artinya, realitas yang sesungguhnya adalah benda-benda konkrit yang dapat ditangkap indera tersebut, sedang apa yang ada dalam akal pikiran, termasuk pengetahuan, semata hanya representasi akal terhadap benda-benda konkrit yang ditangkap indera, sehingga apa yang di sebut dengan “idea” atau essensi menjadi “tidak pasti” karena juga di pengaruhi oleh kekuatan akal yang merepresentasikan, berbeda dengan benda-benda konkrit itu sendiri.
Paradigma pemikiran Aristoteles ini berseberangan dengan paradigma pemikiran gurunya, Plato, yang terbangun dari “atas”. Menurut Plato, sumber ilmu pengetahuan adalah akal atau rasio karena dialah yang merupakan wujud yang sesungguhnya (bieng), bukan kenyataan empiris, meski tidak mengingkari pentingnya pengalaman dan kondisi empiris. Namun, pengalaman atau data-data empiris hanya dipandang sebagai sejenis perangsang pikiran, sehingga benar tidaknya dipengaruhi oleh kenyataan atau objektif benda melainkan oleh ide atau pikiran. Pengetahuan pada dasarnya adalah pengenalan kembali ide-ide yang pernah diperoleh manusia sebelum mereka dilahirkan. Menurut Plato, sebelum kelahirannya di dunia, manusia telah mengalami pre-eksistensi di dunia ide, dan disana mereka menerima bekal konsep tentang kebenaran dan kenyataan. Konsekuensinya, dalam kaitan antara alam indera dan ide, alam indera atau dunia bukanlah kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya bayangan dari alam ide. Dari alam ide yang merupakan wujud hakiki (being) kemudian “turun” dalam bentuk alam indera.
TATA KERJA LOGIKA
Logika Aristoteles, sebagaimana disinggung, berpusat dan berpuncak pada apa yang disebut dengan silogisme. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri atas tiga proposisi. Setiap proposisi dapat dibedakan atas dua unsur:
(1) tentang apa sesuatu dikatakan yang disebut“subjek”,
(2) apa yang di katakan yang disebut “predikat”.
Argumentasi silogisme menurunkan proposisi ketiga dari dua proposisi yang sudah diketahui. Kunci memahami silogisme adalah term yang dipakai dalam putusan pertama maupun kedua.
Silogisme sendiri terdiri atas dua bentuk: silogisme analitika yang dalam epistemologi Islam dikenal dengan istilah (burhani atau demonstratif) dan silogisme dialektika atau jadali. Silogisme analitika (demonstratif) adalah silogisme yang tersusun atas premis-premis yang benar, primer dan memang diperlukan. Premis yang benar adalah premis yang memberi keyakinan, menyakinkan. Al-Farabi, seorang tokoh terkemuka logika Aristotelian dari kalangan muslim, membagi materi premis-premis silogisme ini dalam empat bentuk ;
(1) pengetahuan primer,
(2) pengetahuan indera (mahsusat),
(3) opini-opini yang umumnyaditerima (masyhurat),
(4) opini-opini yang diterima (maqbulat).
Keempat macam premis ini tidak sama tingkat kepercayaannya, ada yang mencapai tingkat menyakinkan, mendekati keyakinan dan percaya begitu saja, sehingga memunculkan hierarki tingkat hasil silogisme. Suatu premis bisa dianggap menyakinkan bila memenuhi tiga syarat :
(1) kepercayaan bahwasesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik,
(2) kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkinmerupakan sesuatu yanglain selain darinya,
(3) kepercayaan bahwa kepercayaan kedua tidakmungkin sebaliknya.
Premis dianggap mendekati keyakinan jika hanyamengacu kepada dua kriteria pertama, sedang yang dipercaya belakamempersyaratkan kriteria pertama diantara tiga kriteria yang diberikan.
Proposisi pengetahuan primer menduduki peringkat pertama dan teratas dalam hierarki materi silogisme, karena ia dinilai memenuhi tiga kriteria premis yang menyakinkan ; yaitu bahwa selain secara at in self benar adanya, ia juga telah teruji secara rasional. Proposisi yang umumnya diterima (masyhurat) menduduki peringkat kedua, tingkat mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan, karena ia dianggap hanya mempunyai dua sifat pertama dalam tiga kriteria yang dipersyaratkan. Proposisi yang umumnya diterima tidak mempunyai sifat ketiga, tidak teruji secara rasional. Artinya, opini yang umum diterima tidak pernah dikaji kembali apakah ia memang demikian, tidak dikaji kemungkinan-kemungkinan sebaliknya. Pertimbangan pertama dalammenerima opini yang umumnya diterima bukan atas dasar kebenarannya,melainkan bahwa ia telah disepakati (konsensus atau ijma’) secara umum,sehingga dalam hal ini, opini-opini yang bertentangan satu sama lain boleh jadi diterima sekaligus, seperti dalam kasus fiqh.
Silogisme analitika atau demonstratif yang disebut juga sebagai silogisme kategoris menggunakan pengetahuan primer ini sebagai premis-premisnya. Selain itu, juga bisa dari jenis-jenis pengetahuan indera dengan syarat bahwa objek-objek pengetahuan indera tersebut harus senantiasa sama (konstans) saat diamati, dimanapun dan kapanpun, dan tidak ada silogisme yang menyimpulkan sebaliknya.
Silogisme dialektik atau disbeut juga silogisme hipotesis adala hbentuk silogisme yang tersusun atas premis-premis yang hanya bertarap mendekati keyakinan, tidak sampai derajat menyakinkan seperti dalam silogisme analitika. Materi premis silogisme dialektik berupa opini-opini yang secara umum diterima (masyhurat), yang ini biasanya diakui atas dasar keimanan atau kesaksian orang lain, tanpa di uji secara rasional. Karena itu, nilai pengetahuan yang dihasilkan dari silogisme dialektika tidak bisa menyamai pengetahuan yang dihasilkan dari metode silogisme analitika. Ia berada di bawah pengetahuan analitika.
Meski demikian, pengetahuan hasil metode dialektik tersebut masih lebih unggul dibanding pengetahuan hasil retorik dan puitik, sebab dalam metode retorik, salah satu premis utamanya telah dibuang sehingga keputusan yang dihasilkan tidak menyakinkan, untuk tidakmengatakan tidak bisa diterima oleh aturan berfikir rasional. Pembuanganpremis utama retorik ini dikarenakan tujuan penting retorik bukan untuk mencapai keyakinan rasional tetapi semata untuk menyakinkan pendengar agar mereka mempercayai apa yang disampaikan dengan membuat jiwanya puas dan sependapat dengan argumen-argumen tersebut.
Disamping itu, premis yang digunakan dalam metode retorik biasanya hanya berputar pada opini-opini yang diterima (maqbulat), salah satu dari --meminjam istilah Kant-- postulat yang menduduki peringkat paling rendah diantara empat postulat yang diberikan al-Farabi. Seperti yang terjadi pada premis pada opini yang umumnya diterima (masyhurat), opinimaqbulat hanya menduduki peringkat “dipercaya saja” karena ia tidak diakui secara umum, bahkan hanya diterima oleh individu ataus ekelompok kecil orang, tanpa ada penyelidikan lebih lanjut apakah yang diterima tersebut memang demikian adanya atau justru malah sebaliknya.
Dalam akhir makalah ini ada beberapa hal yang patut disampaikan. Pertama, dari sisi sejarah, kelahiran logika Aristoteles --termasuk juga logika Yunani yang lain -- tidak lepas dari pengaruh kondisi sosial politik Yunani saat itu yang terbuka, dimana segala persoalan didiskusikan bersama secara bebas, sehingga dituntut adanya kecakapan berfikir dan berargumentasi dalam rangka mempengaruhi orang lain. Kedua, dalam konteks yang lebih luas, logika Aristoteles dan filsafat Yunani pada umumnya bukan satu-satunya sistem berfikir yang ada di dunia, meski diakui sebagai aturan berfikir yang paling berpengaruh. Masih ada sistem berfikir lain yang juga besar dan cukup berpengaruh, yaitu logika Nyaya di India dan logika Mo Tse di Cina. Ketiga, perjalanan logika Aristoteles, sesungguhnya, hanya sampai pada abad-abad pertengahan. Setelah mengalami kemunduran dalam pemikiran filsafat Islam, karena diserang al-Ghazali dan dikritik Suhrawardi, logika Aristoteles juga dikritik dan tidak diakui di Barat, dan mereka menelorkan sistem berfikir sendiri yang lebih bagus, logika modern, yang kemudian mengantarkan Barat kepada kemajuan. Artinya, dalam kaitannya dengan usaha kebangkitan Islam saat ini, para sarjana muslim kiranya tidak bisa begitu saja kembali pada filsafat Islam abad pertengahan yang Aristotelian; jika terpaksa mengambil, yang bisadilakukan hanya dari sisi spirit dan semangatnya belaka. Juga tidak harus mengadopsi logika dan epistemologi Barat secara membabi buta, karena ia ternyata juga mengandung kelemahan, yakni menimbulkan kegersangan ruhani karena sifatnya yang positivistik. Perlu dipikirkan logika dan epistemologi baru, epistemologi alternatif yang lebih bisamengerti dan mengatasi persoalan dunia modern dan masyarakat muslim, sebagaimana yang pernah dilakukan Barat dahulu setelah melihat kekurangan logika Aristoteles. Keempat, sumber berfikir logika Aristoteles adalah apa yang disebut 10 kategori, yang terdiri atas 1 substansi dan 9 aksidensi. Konsep tentang substansi ini diambil dari Plato, gurunya. Dari 10 kategori ini logika Aristoteles kemudian menyusun abstraksi-abstraksi lewat aturan yang disebut dengan silogisme. Dengan demikian, pengetahuan, dalam pandangan logika Aristoteles adalah abstraksi-abstraksi pikiran dari hasil tangkapannya tentang substansi dan kategori-kategori. Kelima, dari sisi filsafat, doktrin Aristoteles tentang immanensi essensi, yakni bahwa essensi bersemayam dalam benda-benda dimana benda-benda konkrit itulah yang dianggap sebagai realitas sesungguhnya, memberikan kontribusi yang penting bagi perkembangan filsafat alam. Paling tidak, ini merupakan antitesis atau koreksi atas doktrin Plato tentang transendensi essensi, meski konsepsi Plato tentang essensi itu sendiri akhirnya juga diambil oleh Aristoteles yang dimasukkan dalam 10 kategorinya, yakni substansi. Keenam, meski logika Aristoteles pernah mengantarkan filsafat Islam pada masa keemasan, juga pernah sangat berpengaruh dalam sejarah intelektual manusia sampai abad pertengahan, tetapi ia juga mengandung kelemahan, yang itu membuat kita harus berfikir ulang jika berkeinginan untuk menggunakan logika ini dalam proyek kebangkitan islam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar